Recent Articles
Home » Posts filed under Nasional
Showing posts with label Nasional. Show all posts
Showing posts with label Nasional. Show all posts
Monday, March 30, 2015
Monday, March 30, 2015
- 0 Comments
"Ada lima pengusaha yang menutup atau merelokasi setelah keputusan penangguhan UMK 2015 di tolak pemerintah provinsi"
![]() |
| Pintu gerbang pabrik PT Samudera Biru, di Jalan Raya Jakarta-Bogor, Cibinong yang pindah ke Jawa Tengah akibat UMK Bogor naik. |
Akibat tidak kuat membayar upah minimum kabupaten (UMK), lima pabrik di Kabupaten Bogor gulung tikar. Sekitar 2.600 pekerja kini menganggur terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bogor, Nuradi membenarkan hal itu. Dia menjelaskan, sudah ada lima pengusaha yang menutup atau merelokasi setelah keputusan penangguhan UMK 2015 di tolak pemerintah provinsi.
Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bogor, Nuradi membenarkan hal itu. Dia menjelaskan, sudah ada lima pengusaha yang menutup atau merelokasi setelah keputusan penangguhan UMK 2015 di tolak pemerintah provinsi.
Ke lima perusahaan padat karya itu PT Harmoni Indah, PT Samudera Biru, PT Dianing Sari, dan PT Eurogate yang seluruhnya bergerak dalam sektor garmen. Sedangkanatu perusahaan lain, yakni PT Jalon yang memproduksi tas.
"Dari ke lima perusahaan itu, hanya PT Samudra Biru yang pabriknya pindah ke Wonogiri, Jawa Tengah dengan alasan agar bisa membayar upah pekerja lebih murah disana. Sementara, empat perusahaan lain lebih memilih menutup pabriknya karena tidak mampu membayar upah pekerja sesuai UMK," ujar Nuradi belum lama ini.
Nuradi mengatakan, jumlah buruh darii lima perusahaan itu sekitar 2.600 orang. Pihaknya,tidak bisa menghalangi pemilik perusahaan untuk menutup atau merelokasi perusahaannya.
Lima perusahaan tersebut merupakan perusahaan sekala hingga besar yang memperkerjakan karyawannya diatas 200 orang.PT Harmoni Indah menjadi memiliki karyawan sekitar sekitar 200 orang, sedangkan PT Samudera Biru mempekerjakan hingga sekitar 1.600 orang.
"Seluruh perusahaan sudah dipastikan telah membayar pesangon kepada pekerjanya. Walau sebagian, ada perusahaan yang membayar pesangon dengan cara dicicil," katanya.
"Dari ke lima perusahaan itu, hanya PT Samudra Biru yang pabriknya pindah ke Wonogiri, Jawa Tengah dengan alasan agar bisa membayar upah pekerja lebih murah disana. Sementara, empat perusahaan lain lebih memilih menutup pabriknya karena tidak mampu membayar upah pekerja sesuai UMK," ujar Nuradi belum lama ini.
Nuradi mengatakan, jumlah buruh darii lima perusahaan itu sekitar 2.600 orang. Pihaknya,tidak bisa menghalangi pemilik perusahaan untuk menutup atau merelokasi perusahaannya.
Lima perusahaan tersebut merupakan perusahaan sekala hingga besar yang memperkerjakan karyawannya diatas 200 orang.PT Harmoni Indah menjadi memiliki karyawan sekitar sekitar 200 orang, sedangkan PT Samudera Biru mempekerjakan hingga sekitar 1.600 orang.
"Seluruh perusahaan sudah dipastikan telah membayar pesangon kepada pekerjanya. Walau sebagian, ada perusahaan yang membayar pesangon dengan cara dicicil," katanya.
Seperti diketahui, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan, UMK Kabupaten Bogor 2015 sebesar Rp 2.655.000, naik dari Rp 2.243.240 pada tahun 2014.
Pantauan Wartakolive, Senin (23/3/2015) pagi sudah tidak ada aktifitas di PT Samudera Biru yang berlokasi di Jalan Raya Jakarta-Bogor KM 42, Kelurahan Nanggewer, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor.
Menurut Rendy Reinaldo, kepala Security di PT Samudera Biru, kegiatan operasional perusahaan garmen itu berhenti sejak Oktober tahun lalu. Seluruh kegiatan dipindahkan ke pabrik baru di Jawa Tengah.
"Sudah sejak enam bulan lalu tidak ada kegiatan lagi disini. Pabrik pindah ke Jawa Tengah," ujarnya.
Karyawan PT Samudera Biru kata Rendy ada yang ikut pindah ke pabrik baru, tapi ada juga yang memilih berhenti."Yang masih bujangan dan kebetulan asal dari Jawa Tengah ada yang kembali bekerja di pabrik baru," katanya.
Saat ini katanya, pabrik garmen itu hanya dijaga security secara bergantian selama 24 jam. Tidak ada aktifitas operasional di pabrik tersebut. Karena sudah tidak digunakan lagi, beberapa bagian bangunan pabrik sudah mulai rusak.
Selain itu, di beberapa sudut pabrik mulai ditumbuhi rumput setinggi 20-30 centimeter. Plang nama perusahaan itu yang sebelumnya terpasang di depan pintu gerbang sudah dicopot.
Dede Iskandar (45) mantan buruh PT Samudera Biru mengatakan, sejak 6 bulan lagi, pabrik tidak lagi beroperasi. Seluruh kegiatan pabrik dipindahkan ke Jawa Tengah.
Dede yang merupakan buruh harian di perusahaan garmen itu memilih berhenti dan kini memilih usaha berjualan minuman dingin dan es kelapa."Saya sudah 6 tahun bekerja di Samudera Biru sebagai buruh harian. Saat pabrik mengumumkan menghentikan kegiatannya, saya juga ikut berhenti," katanya.
Selama 6 tahun bekerja, dia digaji harian yang dibayarkan setiap 2 minggu sekali. Karena itu, dia tidak mendapat pesangon dari perusahaan."Saya sekarang jualan minuman aja sama es kelapa," kata pria yang membuka lapak di samping bekas pabrik tempatnya bekerja. (Tribunnews/Warta Kota)
Gambar Perangko Negara tetangga yang ada gambar Soekarno
Di Negara Adidaya
Presiden Sukarno baru tiba di bandara Washington DC, AS, pada siang hari. Didampingi oleh wakil presiden AS, Richard Nixon, Bung Karno disambut penuh oleh pasukan AS dengan 21 kali tembakan kehormatan. Bung Karno tiba di Washington dalam rangka kunjungan selama 18 hari di AS atas undangan Presiden AS, David Dwight Eisenhower (Foto: 16 Mei 1956 ).
Presiden Sukarno dan Presiden AS, Kennedy, duduk bersama di dalam mobil terbuka, sedang melewati pasukan kehormatan di pangkalan Angkatan Udara AS, MD. Bung Karno datang ke AS dalam rangka pembicaraan masalah insiden Kuba (Foto: 24 April 1961).
Bersama Mantan negara penjajah
Presiden Sukarno menjadi tamu kehormatan Kaisar Jepang, Hirohito dan pangeran Akihito. Bung Karno dijamu makan siang di istana kekaisaran Jepang di Tokyo (Foto: 3 Pebruari 1958).
Menjadi cover majalah TIMES tahun 1946
Go International
Presiden Sukarno berdiri berdampingan dengan 4 pemimpin negara Non Blok setelah mereka selesai mengadakan pertemuan. Dari kiri kekanan : Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Kwame Nkrumah (Presiden Ghana), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), Bung Karno, dan Tito (Presiden Yugoslavia). Kelima pemimpin negara non blok ini mengadakan pertemuan yang menghasilkan seruan kepada Presiden AS, Eisenhower (Presiden AS) dan Perdana Menteri “Uni Soviet”/Rusia, Nikita Khruschev, agar mereka melakukan perundingan diplomasi kembali (Foto: 29 September 1960).
Presiden Sukarno bersama Perdana Menteri Perancis, Pompidou (Foto: 1965).
Presiden Sukarno sedang bercakap-cakap dengan Presiden Kuba, Osvaldo Dorticos Torrado (kiri), dan Perdana Menteri Kuba, Fidel Castro (kanan) di Havana, Kuba (Foto: 9 Mei 1960).
Presiden Sukarno tiba di bandara Karachi, Pakistan. Didampingi oleh Presiden Pakistan, Iskander Ali Mirza, Bung Karno tampak sedang memberi hormat, diapit oleh bendera Indonesia dan bendera Pakistan (Foto: 25 Januari 1958).
sumber : faktaterselubung.com
Di era Soekarno, Istana Bogor menjadi tempat presiden RI pertama ini untuk rehat melepas lelah dan penat. Di sana pula tempat ia melepas rindu dan bercumbu mesra dengan istri dan anaknya.
Wajah Hartini nampak heran saat melihat suaminya, Soekarno, kembali ke istana pada waktu yang tidak biasa. Helikopter yang dinaiki Soekarno mendarat di lapangan Istana sekitar pukul 11.00 siang. Waktu yang tidak biasa bagi Hartini melihat Soekarno datang ke istana menjelang tengah hari. Presiden RI pertama itu memang rutin mendatangi Istana Bogor setiap hari Jumat untuk istirahat dan bertemu istri-istrinya. Soekarno biasanya menginap dan kembali ke Istana Merdeka di Jakarta pada Senin pagi.
Kok, siang-siang begini datang, biasanya kan sore, pikir Hartini sambil keluar paviliun menyambut suami kebanggaannya.
Soekarno baru saja terbang dari Jakarta bersama ajudan dan pengawalnya Brigjen Sabur yang juga merupakan Komandan Resimen Cakrabirawa (satuan pengawal presiden). Sambil berjalan menuju paviliun, Soekarno menampakkan wajah yang tidak ceria. Ada raut kecewa bercampur khawatir di mimik mukanya. Ia masih memakai pakaian khas negarawan: peci, seragam presiden abu-abu, dan tak lupa tongkatnya.
Pagi-pagi kok sudah ada di Bogor, Mas? tanya Hartini yang masih heran dengan sikap dan mimik wajah Soekarno yang tidak seperti biasanya.
Tien, keadaan genting, jawab Soekarno seraya berjalan menuju kamar. Ia kemudian berganti pakaian, salat zuhur dan makan siang.
Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Kedatangannya di Istana Bogor lebih awal dari biasanya bukan tanpa alasan. Ia baru saja meninggalkan rapat kabinet di Istana Merdeka Jakarta. Rupanya rapat kabinet yang ia gelar tidak berjalan mulus. Jakarta sedang ricuh hingga terasa panas dirasa Soekarno. Maka, Istana Bogor pun menjadi pelarian saat ia gerah menghadapi hiruk pikuk suasana pemerintahan.
Hartini adalah salah satu istri yang setia dan sangat dicintai Soekarno. Bernama lengkap Siti Suhartini, janda kelahiran Ponorogo-Jawa Timur ini, dinikahi Soekarno pada malam Rabu 7 Juli 1954 di Istana Cipanas. Sebelumya Soekarno sudah menikahi Utari, Inggit, dan Fatmawati. Dengan Utari dan Inggit pernikahan Soekarno tidak bertahan lama. Konon, ada yang mencatat Soekarno telah menikahi sembilan orang istri. Inggit minta cerai saat Soekarno akan menikahi Fatmawati.
Pernikahan Soekarno dengan Hartini merupakan pernikahan yang paling sensasional karena menimbulkan cekcok antara Soekarno dengan Fatmawati. Setelah akad, Soekarno memboyong Hartini ke Istana Bogor. Fatmawati yang sudah tinggal lama lebih dulu di istana nampak cemburu berat melihat kedatangan istri barunya Soekarno. Demi menjaga perasaan Fatmawati, Soekarno membangunkan paviliun khusus untuk Hartati tak jauh dari Istana. Setahun kemudian, Fatmawati memutuskan untuk pindah ke Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.
Saat keadaan politik dalam negeri kisruh, utamanya di tahun 1966, Soekarno ditinggalkan para pengikutnya. Ia juga digerogoti berbagai penyakit dan menjalani pemeriksaan rutin. Cenderung dikucilkan, Soekarno tidak lagi kelihatan sibuk. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di paviliun Istana Bogor bersama anak dan istrinya. Hingga pada tahun 1967, Soeharto memaksa Soekarno dan keluarganya untuk meninggalkan istana dalam waktu 2x24 jam. Soekarno kemudian pindah ke sebuah rumah di kawasan Batutulis, Bogor.
Menggambarkan bagaimana Soekarno di Istana Bogor, Rachmawati (salah satu anak Soekarno) dalam bukunya yang berjudul Bapakku Ibuku, menulis: Hanya di sini (Istana Bogor) Bapak menemukan kembali suasana bersuami istri, semenjak kepergian ibuku dari istana di Jakarta.
Wajah Hartini nampak heran saat melihat suaminya, Soekarno, kembali ke istana pada waktu yang tidak biasa. Helikopter yang dinaiki Soekarno mendarat di lapangan Istana sekitar pukul 11.00 siang. Waktu yang tidak biasa bagi Hartini melihat Soekarno datang ke istana menjelang tengah hari. Presiden RI pertama itu memang rutin mendatangi Istana Bogor setiap hari Jumat untuk istirahat dan bertemu istri-istrinya. Soekarno biasanya menginap dan kembali ke Istana Merdeka di Jakarta pada Senin pagi.
Kok, siang-siang begini datang, biasanya kan sore, pikir Hartini sambil keluar paviliun menyambut suami kebanggaannya.
Soekarno baru saja terbang dari Jakarta bersama ajudan dan pengawalnya Brigjen Sabur yang juga merupakan Komandan Resimen Cakrabirawa (satuan pengawal presiden). Sambil berjalan menuju paviliun, Soekarno menampakkan wajah yang tidak ceria. Ada raut kecewa bercampur khawatir di mimik mukanya. Ia masih memakai pakaian khas negarawan: peci, seragam presiden abu-abu, dan tak lupa tongkatnya.
Pagi-pagi kok sudah ada di Bogor, Mas? tanya Hartini yang masih heran dengan sikap dan mimik wajah Soekarno yang tidak seperti biasanya.
Tien, keadaan genting, jawab Soekarno seraya berjalan menuju kamar. Ia kemudian berganti pakaian, salat zuhur dan makan siang.
Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Kedatangannya di Istana Bogor lebih awal dari biasanya bukan tanpa alasan. Ia baru saja meninggalkan rapat kabinet di Istana Merdeka Jakarta. Rupanya rapat kabinet yang ia gelar tidak berjalan mulus. Jakarta sedang ricuh hingga terasa panas dirasa Soekarno. Maka, Istana Bogor pun menjadi pelarian saat ia gerah menghadapi hiruk pikuk suasana pemerintahan.
Hartini adalah salah satu istri yang setia dan sangat dicintai Soekarno. Bernama lengkap Siti Suhartini, janda kelahiran Ponorogo-Jawa Timur ini, dinikahi Soekarno pada malam Rabu 7 Juli 1954 di Istana Cipanas. Sebelumya Soekarno sudah menikahi Utari, Inggit, dan Fatmawati. Dengan Utari dan Inggit pernikahan Soekarno tidak bertahan lama. Konon, ada yang mencatat Soekarno telah menikahi sembilan orang istri. Inggit minta cerai saat Soekarno akan menikahi Fatmawati.
Pernikahan Soekarno dengan Hartini merupakan pernikahan yang paling sensasional karena menimbulkan cekcok antara Soekarno dengan Fatmawati. Setelah akad, Soekarno memboyong Hartini ke Istana Bogor. Fatmawati yang sudah tinggal lama lebih dulu di istana nampak cemburu berat melihat kedatangan istri barunya Soekarno. Demi menjaga perasaan Fatmawati, Soekarno membangunkan paviliun khusus untuk Hartati tak jauh dari Istana. Setahun kemudian, Fatmawati memutuskan untuk pindah ke Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.
Saat keadaan politik dalam negeri kisruh, utamanya di tahun 1966, Soekarno ditinggalkan para pengikutnya. Ia juga digerogoti berbagai penyakit dan menjalani pemeriksaan rutin. Cenderung dikucilkan, Soekarno tidak lagi kelihatan sibuk. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di paviliun Istana Bogor bersama anak dan istrinya. Hingga pada tahun 1967, Soeharto memaksa Soekarno dan keluarganya untuk meninggalkan istana dalam waktu 2x24 jam. Soekarno kemudian pindah ke sebuah rumah di kawasan Batutulis, Bogor.
Menggambarkan bagaimana Soekarno di Istana Bogor, Rachmawati (salah satu anak Soekarno) dalam bukunya yang berjudul Bapakku Ibuku, menulis: Hanya di sini (Istana Bogor) Bapak menemukan kembali suasana bersuami istri, semenjak kepergian ibuku dari istana di Jakarta.
sumber : merdeka.com
![]() |
| Indonesia Satu |
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia merupakan salah satu varian dari bahasa Melayu, yaitu Melayu Riau. Dalam perkembangannya, bahasa Melayu Riau tersebut mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20.
Karena sudah berubah dari bahasa aslinya, maka pendiri bangsa kita menamainya "Bahasa Indonesia" selain untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Penggunaan bahasa Indonesia diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Karena sudah berubah dari bahasa aslinya, maka pendiri bangsa kita menamainya "Bahasa Indonesia" selain untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Penggunaan bahasa Indonesia diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Kadang kita tidak “ngeh”, ternyata ada kata-kata yang berawal dari Indonesia sudah menjadi bagian kata-kata dunia. Dipakai tidak hanya oleh orang Indonesia tapi juga oleh orang-orang di luar negeri. Awal mula kata tersebut terkenal di dunia, awalnya berbeda-beda. Apa saja ya? seperti dikutip dari gomuda, Inilah mereka.
1. Java
Java adalah nama internasional untuk Jawa. Seperti kita tahu, Jawa adalah pulau berpenduduk terpadat di dunia, kelima terbesar di Indonesia, dan ketiga belas terbesar di dunia. Salah satu kata "Java" yang terkenal berupa nama bahasa pemrograman yang multi platform dan multi device, dengan logo cangkir serta dan tatakan berwarna biru dan uap berwarna merah
Nama dan logo ini konon diambil oleh pendiri Java ketika mereka sedang jalan-jalan di Indonesia dan minum secangkir kopi Jawa panas, yang menjadi inspirasi nama program baru mereka. Kebetulan mereka pecinta kopi.
2. Komodo
Komodo atau lengkapnya biawak komodo ((Varanus komodoensis) merupakan kadal terbesar di dunia yang hidup di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Pertama kali didokumentasikan oleh orang Eropa tahun 1910.
Namanya menjadi terkenal setelah Peter Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor, pada tahun 1912 menerbitkan paper tentang komodo setelah menerima foto dan kulit reptil ini. Hal ini yang menjadi pendorong dilakukannya ekspedisi ke pulau Komodo oleh W. Douglas Burden pada tahun 1926. Dan ekspedisi ini menjadi dasar cerita film King Kong pada tahun 1933.
3. Bali
Seperti kita tahu Bali adalah pulau paling terkenal di Indonesia dan juga dunia, sebagai salah satu pulau tujuan wisata dunia
Bali menyajikan keindahan alam desa, pegunungan, dan pantai, berpadu dengan keindahan budaya dan agama tradisional; seperti pantai Kuta, desa Ubud, Tanah Lot, Sangeh, danau Batur, Kintamani, dsb. Keterkenalan Bali dapat kita saksikan dalam drama Korea yang dibintangi oleh Ha Ji-Won dan Jo In-Sung di tahun 2004 berjudul Balli-eseo Saenggin Il (Something Happened in Bali / What Happened in Bali / Memories of Bali).
Terinspirasi perjalanan hidupnya sendiri, Elizabeth Gilbert menulis memoir berjudul Eat, Pray, Love: One Woman's Search for Everything Across Italy, India and Indonesia, yang lalu diadaptasi ke dalam film berjudul Eat, Pray, Love diproduseri salah satunya oleh Brad Pitt dan dibintangi oleh Julia Robert dan Javier Bardem pada tahun 2010.
4. Kopi Luwak
Biji kopi Luak atau Luwak adalah salah satu biji kopi termahal di dunia, mencapai USD 100 per 450 gram. Berawal dari larangan Belanda terhadap para pekerja perkebunan pribumi Indonesia yang ingin mencicipi kopi hasil tanam paksa pada awal abad 18.
Para pekerja pribumi akhirnya menemukan bahwa ada sejenis musang yang suka memakan buah kopi, tetapi hanya daging buahnya yang tercerna, kulit ari dan biji kopinya masih utuh. Biji kopi dalam kotoran luwak ini kemudian dipunguti, dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh dengan air panas, dan ternyata rasanya nikmat.
Konon luwak hanya memakan buah kopi yang sudah matang di pohon, jadi biji kopinya terasa lebih nikmat. Kopi luwak terkenal mahal karena kelangkaannya serta proses pembuatannya yang tidak lazim.
5. Mata Hari
Margaretha Geertruida "Margreet" Zelle MacLeod lahir di Leeuwarden, Belanda tanggal 7 Agustus 1876. Dihukum mati dengan cara ditembak oleh regu tembak pada tanggal 15 Oktober 1917 dengan tuduhan mata-mata Jerman bagi pihak Prancis dan Inggris. Setelah menikah, pada Mei 1897 dia dan suaminya pindah ke Malang, Indonesia.
Tercatat ada sekitar 360 patung di Istana Bogor, Jawa Barat. Sebagian besar dari patung tersebut merupakan patung telanjang.
Untuk orang yang tidak memiliki naluri seni, tentu akan risih ketika berkunjung ke Istana Bogor. Sebab di sana banyak sekali patung-patung yang dibuat dalam kondisi tanpa busana alias telanjang. Saat ada acara tertentu, patung-patung telanjang tersebut ditutupi kain agar tamu-tamu yang datang tidak risih melihatnya. Namun bagi yang mengerti seni, patung-patung tersebut ternyata merupakan karya bernilai tinggi.
Ada sekitar 360 patung yang menghiasi Istana Bogor. Patung-patung tersebut dibuat oleh para seniman ternama baik dari dalam maupun luar negeri. Sebagian termasuk karya yang langka dari maestro dunia. Salah satunya adalah patung Little Mermaid karya seniman Edward Eriksen. Patung putri duyung bertelanjang dada tersebut tengah duduk di atas batu menghadap kolam ikan. Letaknya tak jauh di depan Istana Bogor.
Menurut keterangan salah satu staf Istana Bogor, Sabtu (21/2) patung Little Mermaid hanya ada tiga buah di dunia. Satu buah berada di Kota Kopenhagen yang dibuat menghadap langsung ke arah laut. Satu buah lagi berada di Denmark yang dibuat pada tahun 1913 dan menjadi ikon negara tersebut. Kemudian satu lagi adalah di Istana Bogor yang bisa dilihat dari Kebun Raya Bogor. Konon, patung yang diadaptasi dari kisah The Little Mermaid karya Hans Christian Anderson ini menjadi patung paling banyak difoto wisatawan di Denmark. Ada lebih dari 5 juta foto tiap tahunnya di sana.
Selain Little Mermaid masih banyak lagi patung-patung wanita telanjang lainnya di Istana Bogor. Bahkan begitu memasuki gedung utama, sudah disambut oleh patung tanpa busana yang menggambarkan kemolekan tubuh seorang wanita. Di halaman utama ada patung wanita yang katanya dikirim langsung dari Beograd, Yugoslavia, sebagai sumbangan Presiden Josep Bross Tito untuk Soekarno. Masih di sekitaran halaman istana, terlihat pula patung wanita dengan sepasang payudara yang menonjol sedang menyisir rambut. Patung tersebut diberi nama Patung Menyisir Rambut karya Struble dari Hongaria.
Yang tak kalah menarik adalah Patung Denok yang terletak di belakang istana. Patung batu tanpa busana ini merupakan karya seniman lokal dari Solo bernama Trubus. Patung yang terinspirasi dari lukisan Ernest Dezentje ini mengambil wajah cantik anak pegawai istana. Soekarno sangat menyukai wanita tersebut hingga dibuatlah patung dalam bentuk wanita sedang jongkok sambil menoleh ke kanan.
Selain patung wanita, adapula berbagai patung laki-laki juga tanpa busana. Misalnya patung karya Patzay Pal dari Budapest. Patung lelaki telanjang yang terletak di belakang istana ini digambarkan sebagai seorang lelaki pemberani yang sedang melawan ular. Ada pula patung Hercules yang dibuat oleh seniman dari Polandia. Patung yang digambarkan sedang memegang busur panah tersebut juga terpampang tanpa baju dan celana.
Untuk orang yang tidak memiliki naluri seni, tentu akan risih ketika berkunjung ke Istana Bogor. Sebab di sana banyak sekali patung-patung yang dibuat dalam kondisi tanpa busana alias telanjang. Saat ada acara tertentu, patung-patung telanjang tersebut ditutupi kain agar tamu-tamu yang datang tidak risih melihatnya. Namun bagi yang mengerti seni, patung-patung tersebut ternyata merupakan karya bernilai tinggi.
Ada sekitar 360 patung yang menghiasi Istana Bogor. Patung-patung tersebut dibuat oleh para seniman ternama baik dari dalam maupun luar negeri. Sebagian termasuk karya yang langka dari maestro dunia. Salah satunya adalah patung Little Mermaid karya seniman Edward Eriksen. Patung putri duyung bertelanjang dada tersebut tengah duduk di atas batu menghadap kolam ikan. Letaknya tak jauh di depan Istana Bogor.
Menurut keterangan salah satu staf Istana Bogor, Sabtu (21/2) patung Little Mermaid hanya ada tiga buah di dunia. Satu buah berada di Kota Kopenhagen yang dibuat menghadap langsung ke arah laut. Satu buah lagi berada di Denmark yang dibuat pada tahun 1913 dan menjadi ikon negara tersebut. Kemudian satu lagi adalah di Istana Bogor yang bisa dilihat dari Kebun Raya Bogor. Konon, patung yang diadaptasi dari kisah The Little Mermaid karya Hans Christian Anderson ini menjadi patung paling banyak difoto wisatawan di Denmark. Ada lebih dari 5 juta foto tiap tahunnya di sana.
Selain Little Mermaid masih banyak lagi patung-patung wanita telanjang lainnya di Istana Bogor. Bahkan begitu memasuki gedung utama, sudah disambut oleh patung tanpa busana yang menggambarkan kemolekan tubuh seorang wanita. Di halaman utama ada patung wanita yang katanya dikirim langsung dari Beograd, Yugoslavia, sebagai sumbangan Presiden Josep Bross Tito untuk Soekarno. Masih di sekitaran halaman istana, terlihat pula patung wanita dengan sepasang payudara yang menonjol sedang menyisir rambut. Patung tersebut diberi nama Patung Menyisir Rambut karya Struble dari Hongaria.
Yang tak kalah menarik adalah Patung Denok yang terletak di belakang istana. Patung batu tanpa busana ini merupakan karya seniman lokal dari Solo bernama Trubus. Patung yang terinspirasi dari lukisan Ernest Dezentje ini mengambil wajah cantik anak pegawai istana. Soekarno sangat menyukai wanita tersebut hingga dibuatlah patung dalam bentuk wanita sedang jongkok sambil menoleh ke kanan.
Selain patung wanita, adapula berbagai patung laki-laki juga tanpa busana. Misalnya patung karya Patzay Pal dari Budapest. Patung lelaki telanjang yang terletak di belakang istana ini digambarkan sebagai seorang lelaki pemberani yang sedang melawan ular. Ada pula patung Hercules yang dibuat oleh seniman dari Polandia. Patung yang digambarkan sedang memegang busur panah tersebut juga terpampang tanpa baju dan celana.
sumber : merdeka.com
Istana Bogor awalnya bernama Buitenzorg yang artinya bebas dari masalah atau kekhawatiran. Begitulah tujuan awal dibangunnya Istana Bogor, yaitu sebagai tempat peristirahatan untuk melepas penat.
Mungkin tak pernah terpikir oleh Gustaaf Willem Barron Van Imhoff kalau tempat peristirahatan yang dia bangun kini menjadi salah satu tempat vital bangsa Indonesia. Istana Bogor yang kini dijadikan tempat berkantor Presiden Joko Widodo ( Jokowi) dahulunya dibangun oleh Gubernur Jenderal Belanda tersebut hanya sebagai tempat untuk bersantai melepas penat.
Bangunan megah kebanggaan warga Bogor ini dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda pada abad ke 18. Dirancang dengan bentuk pesanggrahan, bangunan ini awalnya bernama Buitenzorg, yang artinya bebas masalah atau bebas kekhawatiran.
Sesuai dengan namanya, Gustaaf memang membangun pesanggrahan tersebut agar bisa menghindar sejenak dari panasnya pusat pemerintahan di mana dia bekerja. Jakarta yang dulunya bernama Batavia merupakan pusat pemerintahan Belanda. Maka Gubernur Jenderal yang memerintah waktu itu berinisiatif untuk mencari tempat lain lebih teduh dan sejuk yang bisa dijadikan tempat peristirahatan.
Setelah melakukan inspeksi, akhirnya anak buah Gustaaf menemukan tempat yang strategis di daerah Cianjur, Jawa Barat. Tempat inilah bernama Bogor yang akhirnya dipilih Gustaaf untuk membangun tempat peristirahatan. Tepatnya pada bulan Agustus tahun 1744, Gustaaf membangun sebuah pesanggrahan yang modelnya ia tiru dari bangunan Blainheim Palace di Oxford, Inggris. Dalam sejarahnya Blainheim Palace ini merupakan tempat kediaman Duke of Malborough, nenek moyang Princes Wale Lady Diana.
Selain untuk nama pesanggrahan, Buitenzorg juga menjadi nama untuk perkampungan di sana. Kemungkinan nama Bogor merupakan adaptasi dari nama Buitenzorg. Dinamai Istana Bogor, sejak bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1950. Bentuk dan luas bangunan Buitenzorgh memang mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Utamanya pada era masuknya Inggris di bawah pemerintahan Herman Willem Daendles dan Sir Stamford Raffles. Dari yang awalnya hanya sebuah pesanggrahan, Buitenzorgh berubah menjadi bangunan Istana Paladian.
Istana ini pernah rusak berat akibat meletusnya Gunung Salak. Sekitar tahun 1850, seorang Gubernur Jenderal bernama Albertus Jacob membangun kembali Istana Bogor. Hingga pada tahun 1870, istana ini dijadikan tempat kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Orang Belanda yang terakhir menghuni adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg hingga direbut oleh pemerintah Jepang. Tahun 1950, pemerintah Indonesia mengambil alih istana tersebut dan secara resmi menjadikannya sebagai salah satu istana kepresidenan Republik Indonesia.
Di era pemerintahan Soekarno, Istana Bogor masih digunakan sebagai tempat peristirahatan. Soekarno menjadikan Istana Bogor sebagai tempat rehat dan bercumbu mesra dengan istri-istri dan anak-anaknya. Barulah pada masa pemerintahan Soeharto, tempat ini mulai digunakan untuk urusan pemerintahan. Soeharto pernah mengadakan pertemuan APEC (Asia-Pasific Economy Cooperation) di Istana Bogor pada tanggal 15 November 1994.
Presiden Abdurrahman Wahid juga pernah memilih Istana Bogor untuk tinggal dan berkantor, Dia sering menjamu tamu-tamu negara di sana. Pada masa pemerintahan Megawati pernah mengadakan pesta untuk memeriahkan kemerdekaan RI yang ke 57. Presiden Amerika George Walker Bush juga pernah berkunjung ke Istana Bogor saat SBY masih menjabat presiden. Kini, presiden ke 7 Jokowi juga telah memilih Istana Bogor sebagai tempatnya tinggal sekaligus berkantor mengurusi urusan pemerintahan.
Mungkin tak pernah terpikir oleh Gustaaf Willem Barron Van Imhoff kalau tempat peristirahatan yang dia bangun kini menjadi salah satu tempat vital bangsa Indonesia. Istana Bogor yang kini dijadikan tempat berkantor Presiden Joko Widodo ( Jokowi) dahulunya dibangun oleh Gubernur Jenderal Belanda tersebut hanya sebagai tempat untuk bersantai melepas penat.
Bangunan megah kebanggaan warga Bogor ini dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda pada abad ke 18. Dirancang dengan bentuk pesanggrahan, bangunan ini awalnya bernama Buitenzorg, yang artinya bebas masalah atau bebas kekhawatiran.
Sesuai dengan namanya, Gustaaf memang membangun pesanggrahan tersebut agar bisa menghindar sejenak dari panasnya pusat pemerintahan di mana dia bekerja. Jakarta yang dulunya bernama Batavia merupakan pusat pemerintahan Belanda. Maka Gubernur Jenderal yang memerintah waktu itu berinisiatif untuk mencari tempat lain lebih teduh dan sejuk yang bisa dijadikan tempat peristirahatan.
Setelah melakukan inspeksi, akhirnya anak buah Gustaaf menemukan tempat yang strategis di daerah Cianjur, Jawa Barat. Tempat inilah bernama Bogor yang akhirnya dipilih Gustaaf untuk membangun tempat peristirahatan. Tepatnya pada bulan Agustus tahun 1744, Gustaaf membangun sebuah pesanggrahan yang modelnya ia tiru dari bangunan Blainheim Palace di Oxford, Inggris. Dalam sejarahnya Blainheim Palace ini merupakan tempat kediaman Duke of Malborough, nenek moyang Princes Wale Lady Diana.
Selain untuk nama pesanggrahan, Buitenzorg juga menjadi nama untuk perkampungan di sana. Kemungkinan nama Bogor merupakan adaptasi dari nama Buitenzorg. Dinamai Istana Bogor, sejak bangunan ini diambil alih oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1950. Bentuk dan luas bangunan Buitenzorgh memang mengalami perkembangan seiring berjalannya waktu. Utamanya pada era masuknya Inggris di bawah pemerintahan Herman Willem Daendles dan Sir Stamford Raffles. Dari yang awalnya hanya sebuah pesanggrahan, Buitenzorgh berubah menjadi bangunan Istana Paladian.
Istana ini pernah rusak berat akibat meletusnya Gunung Salak. Sekitar tahun 1850, seorang Gubernur Jenderal bernama Albertus Jacob membangun kembali Istana Bogor. Hingga pada tahun 1870, istana ini dijadikan tempat kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Orang Belanda yang terakhir menghuni adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg hingga direbut oleh pemerintah Jepang. Tahun 1950, pemerintah Indonesia mengambil alih istana tersebut dan secara resmi menjadikannya sebagai salah satu istana kepresidenan Republik Indonesia.
Di era pemerintahan Soekarno, Istana Bogor masih digunakan sebagai tempat peristirahatan. Soekarno menjadikan Istana Bogor sebagai tempat rehat dan bercumbu mesra dengan istri-istri dan anak-anaknya. Barulah pada masa pemerintahan Soeharto, tempat ini mulai digunakan untuk urusan pemerintahan. Soeharto pernah mengadakan pertemuan APEC (Asia-Pasific Economy Cooperation) di Istana Bogor pada tanggal 15 November 1994.
Presiden Abdurrahman Wahid juga pernah memilih Istana Bogor untuk tinggal dan berkantor, Dia sering menjamu tamu-tamu negara di sana. Pada masa pemerintahan Megawati pernah mengadakan pesta untuk memeriahkan kemerdekaan RI yang ke 57. Presiden Amerika George Walker Bush juga pernah berkunjung ke Istana Bogor saat SBY masih menjabat presiden. Kini, presiden ke 7 Jokowi juga telah memilih Istana Bogor sebagai tempatnya tinggal sekaligus berkantor mengurusi urusan pemerintahan.
sumber : merdeka.com
Di balik kemegahannya, Istana Bogor menyimpan sejarah yang dramatis tentang sebuah perpindahan kekuasaan. Turunnya Surat Perintah 11 Maret atau yang dikenal dengan Supersemar menjadi titik balik berkuasanya Soeharto menggantikan Soekarno. Ada tiga jenderal yang ikut berperan mendalangi turunnya Supersemar. Siapa saja tiga jenderal tersebut? Bagaimana kisah dramatis yang terjadi di Istana Bogor waktu itu?
Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, waktu menunjukkan pukul 13.00 di Istana Bogor. Terdengar deru helikopter mendarat di lapangan istana. Ternyata tiga orang jenderal angkatan darat (AD) datang untuk menemui Soekarno. Ada yang mengatakan mereka datang mengendarai jeep yang dikemudikan oleh Brigjen Muhammad Jusuf yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Dua jenderal lainnya, yaitu Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran dan Demobilisasi) dan Brigjen Amir Mahmud (Panglima Kodam Jaya).
Soekarno sedang istirahat saat trio jenderal datang. Hari itu memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Tidak seperti biasanya, dia datang ke Istana Bogor lebih awal. Soekarno pergi meninggalkan rapat kabinet di Jakarta menuju Bogor dengan tergesa-gesa. Brigjen Saboer, pengawal dan ajudan kepercayaan Soekarno, melaporkan adanya kericuhan dan pasukan liar mendekati istana. Padahal sebelumnya, Amir Mahmud yang dipercaya untuk mengamankan rapat, melaporkan situasi dalam kondisi aman.
Kejadian tersebut yang memunculkan inisiatif dari Basuki Rachmat dan Jusuf untuk menemui Soekarno di Bogor. Meskipun kedua menteri ini hadir dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, tapi mereka tidak tahu menahu mengenai laporan berbeda hingga memunculkan ketegangan antara Saboer dan Amir Mahmud. Sebelum berangkat ke Bogor, trio jenderal sempat menemui Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Waktu itu Soeharto yang telah diangkat Soekarno sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, sedang dalam kondisi sakit. Soeharto kemudian mengizinkan ketiganya untuk menemui Soekarno dan menitipkan pesan, Saya bersedia memikul tanggungjawab apabila kewenangan untuk itu diberikan kepada saya untuk melaksanakan stabilitas keamanan dan politik berdasarkan Tritura.
Di balik kedatangan tiga jenderal itu ternyata ada maksud lain. Mereka meminta Soekarno agar memberikan kewenangan penuh kepada Soeharto untuk mengamankan kondisi negara. Berdasarkan pengakuan Lettu Sukardjo, pengawal presiden yang berjaga waktu itu, suasana nampak tegang. Antara tiga jenderal dan Soekarno terlibat adu argumen tentang isi surat kewenangan yang akan diberikan kepada Soeharto. Bahkan Sukardjo mengatakan sempat terjadi todong-todongan senjata antara dirinya dan trio jenderal.
Karena berbagai desakan yang muncul, akhirnya Soekarno menandatangani surat kewenangan untuk Soeharto. Surat itu yang kemudian dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Berbekal SP 11 Maret, Soeharto setapak melangkah lebih depan menuju kekuasaan. Dia tampil sebagai pahlawan kesaktian Pancasila yang telah membasmi bahaya komunis dari Tanah Air. Maka setahun pasca keluarnya Supersemar, Soeharto mengubah Indonesia dari era Orde Lama menuju era Orde Baru. Tepat pada tanggal 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.
Setelah runtuhnya kekuasaan Soeharto, banyak yang mengungkap mengenai kisah di balik munculnya Supersemar. Butir-butir di dalam Supersemar ternyata disalahtafsirkan Soeharto sebagai penyerahan wewenang pimpinan pemerintahan. Ada pula yang meragukan mengenai keaslian dari Supersemar yang dipegang Soeharto dengan yang diberikan oleh Soekarno. Salah satu dari trio jenderal itu diduga menyimpan naskah asli Supersemar. Sayangnya, ketiga jenderal tersebut sudah mangkat dan Supersemar yang asli masih menjadi misteri.
Di balik itu semua, Istana Bogor telah menjadi saksi berbagai sejarah yang akan terekam di dinding-dinding bangunan megah itu sepanjang masa. Istana yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang yang singgah atau sekadar melihat rusa-rusa cantik di sana. Istana yang dibangun bukan hanya sebagai penghias kota Bogor. Tapi ia sebuah bangunan yang harusnya menyadarkan kita agar jangan pernah melupakan sejarah. Istana Bogor, sebuah istana yang kini dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai tempat utama untuk mengatur pemerintahan Indonesia.
Hari itu, Jumat tanggal 11 Maret 1966, waktu menunjukkan pukul 13.00 di Istana Bogor. Terdengar deru helikopter mendarat di lapangan istana. Ternyata tiga orang jenderal angkatan darat (AD) datang untuk menemui Soekarno. Ada yang mengatakan mereka datang mengendarai jeep yang dikemudikan oleh Brigjen Muhammad Jusuf yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Perindustrian. Dua jenderal lainnya, yaitu Mayjen Basuki Rachmat (Menteri Veteran dan Demobilisasi) dan Brigjen Amir Mahmud (Panglima Kodam Jaya).
Soekarno sedang istirahat saat trio jenderal datang. Hari itu memang bukan hari yang menggembirakan bagi Soekarno. Tidak seperti biasanya, dia datang ke Istana Bogor lebih awal. Soekarno pergi meninggalkan rapat kabinet di Jakarta menuju Bogor dengan tergesa-gesa. Brigjen Saboer, pengawal dan ajudan kepercayaan Soekarno, melaporkan adanya kericuhan dan pasukan liar mendekati istana. Padahal sebelumnya, Amir Mahmud yang dipercaya untuk mengamankan rapat, melaporkan situasi dalam kondisi aman.
Kejadian tersebut yang memunculkan inisiatif dari Basuki Rachmat dan Jusuf untuk menemui Soekarno di Bogor. Meskipun kedua menteri ini hadir dalam rapat kabinet di Istana Merdeka, tapi mereka tidak tahu menahu mengenai laporan berbeda hingga memunculkan ketegangan antara Saboer dan Amir Mahmud. Sebelum berangkat ke Bogor, trio jenderal sempat menemui Soeharto di Jalan Haji Agus Salim. Waktu itu Soeharto yang telah diangkat Soekarno sebagai Panglima Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, sedang dalam kondisi sakit. Soeharto kemudian mengizinkan ketiganya untuk menemui Soekarno dan menitipkan pesan, Saya bersedia memikul tanggungjawab apabila kewenangan untuk itu diberikan kepada saya untuk melaksanakan stabilitas keamanan dan politik berdasarkan Tritura.
Di balik kedatangan tiga jenderal itu ternyata ada maksud lain. Mereka meminta Soekarno agar memberikan kewenangan penuh kepada Soeharto untuk mengamankan kondisi negara. Berdasarkan pengakuan Lettu Sukardjo, pengawal presiden yang berjaga waktu itu, suasana nampak tegang. Antara tiga jenderal dan Soekarno terlibat adu argumen tentang isi surat kewenangan yang akan diberikan kepada Soeharto. Bahkan Sukardjo mengatakan sempat terjadi todong-todongan senjata antara dirinya dan trio jenderal.
Karena berbagai desakan yang muncul, akhirnya Soekarno menandatangani surat kewenangan untuk Soeharto. Surat itu yang kemudian dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966. Berbekal SP 11 Maret, Soeharto setapak melangkah lebih depan menuju kekuasaan. Dia tampil sebagai pahlawan kesaktian Pancasila yang telah membasmi bahaya komunis dari Tanah Air. Maka setahun pasca keluarnya Supersemar, Soeharto mengubah Indonesia dari era Orde Lama menuju era Orde Baru. Tepat pada tanggal 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan nakhoda pemerintahan Indonesia kepada Soeharto.
Setelah runtuhnya kekuasaan Soeharto, banyak yang mengungkap mengenai kisah di balik munculnya Supersemar. Butir-butir di dalam Supersemar ternyata disalahtafsirkan Soeharto sebagai penyerahan wewenang pimpinan pemerintahan. Ada pula yang meragukan mengenai keaslian dari Supersemar yang dipegang Soeharto dengan yang diberikan oleh Soekarno. Salah satu dari trio jenderal itu diduga menyimpan naskah asli Supersemar. Sayangnya, ketiga jenderal tersebut sudah mangkat dan Supersemar yang asli masih menjadi misteri.
Di balik itu semua, Istana Bogor telah menjadi saksi berbagai sejarah yang akan terekam di dinding-dinding bangunan megah itu sepanjang masa. Istana yang seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang yang singgah atau sekadar melihat rusa-rusa cantik di sana. Istana yang dibangun bukan hanya sebagai penghias kota Bogor. Tapi ia sebuah bangunan yang harusnya menyadarkan kita agar jangan pernah melupakan sejarah. Istana Bogor, sebuah istana yang kini dipilih oleh Presiden Jokowi sebagai tempat utama untuk mengatur pemerintahan Indonesia.
sumber : merdeka.com
Subscribe to:
Posts (Atom)













